Ketika Politik Agama Tiada Lawan


By: Khoirul Taqwim

Kekuatan agama sudah tidak diragukan lagi dalam kancah dunia perpolitikan, apalagi kalau agama sudah menjadi sebuah kekuatan politik di tengah-tengah realitas kehidupan masyarakat. Maka agama seolah-olah sudah menjadi langit yang duduk di singgasana awan, tiada lawan satupun kekuatan politik yang melawannya. Karena agama sudah menjadi kekuatan dalam ranah keyakinan akan keberlangsungan sebuah kejayaan dalam pendirian maupun pemberdayaan sebuah negara.

Politik agama tidak jarang menjadi momok dari politik sekuler, liberal maupun komunis. Mengingat politik agama begitu kuat dalam ranah keyakinan masyarakat yang tidak hanya masalah hubungan manusia dengan manusia, manusia dengan alam semesta, tetapi politik agama sudah menjadi hubungan dengan kekuatan sang maha kehendak, tentunya kekuatan hubungan manusia dengan Tuhan sang maha pencipta alam semesta.

Keberadaan politik agama merupakan politik kehendak, tentunya politik yang tiada lawan. Mengingat agama adalah: sebuah kehendak suci yang tidak terbantahkan. Sehingga tidak jarang dalam pemilihan pemimpin negara, pemilihan kepala daerah, pemilihan wakil rakyat, dan pemilihan-pemilihan lainnya. Politik agama telah menjadi kekuatan penopang sebuah kemenangan dalam mewujudkan sebagai kehendak kekuatan di jagad raya yang tak terbantahkan.

Politik agama laksana Matahari yang bersinar terang tanpa celah, bisa di lihat dari ujung barat hingga ujung timur. Karena politik agama mempunyai kekuatan kehendak yang tiada lawan, baik dari politik liberal, sekuler maupun komunis. Karena semua akan tunduk saat berhadapan melawan politik agama  yang telah  di lindungi oleh sang maha kehendak suci, yaitu: sang maha pemilik alam semesta.

Ketika politik agama tiada lawan, berarti politik agama sudah dilakukan dengan sempurna dengan bantuan sang maha kehendak. Karena sang maha kehendak merupakan sebuah keniscayaan yang tidak terbantahkan akan kekuatan-NYA. Maka untuk itulah, olah pikir dalam membangun politik agama terus disempurnakan dari generasi-kegenerasi. Mengingat politik agama sudah mendarah daging dalam jiwa masyarakat yang beriman pada hari perhitungan kelak.

Dengan politik agama pertarungan akan semakin ada greget. Karena politik agama kalau sudah masuk dalam ranah politik. Maka politik suap, politik retorika bahasa sudah terasa hampa sekali. Karena yang ada politik kehendak dan keyakinan akan kekuatan suci yang membantu dalam memenangkan permainan politik di dalam sebuah negara. Namun membangun politik agama yang tangguh membutuhkan sebuah kekuatan maha kehendak, bukan sekedar teori semata, tetapi jauh lebih dari itu. Keyakinan dan keimanan merupakan sumber politik agama.

Ketika politik agama tiada lawan, berarti sang maha kehendak sudah merestui akan kehadiran sebuah politik agama yang penuh dengan kekuatan keimanan dan kekuatan keyakinan yang tidak terbantahkan lagi. Sehingga strategi politik apapun sudah tidak akan mampu melawannya. Karena politik agama sudah menjadi nafas keimanan dan keyakinan di tengah-tengah realitas kehidupan masyarakat dalam bernegara.

Dengan izin sang maha kehendak, sang maha pencipta langit maupun bumi, sang maha pencipta lautan maupun daratan, sang maha pencipta siang maupun malam, sang maha pencipta bulan maupun bintang, dan sang maha pencipta seluruh semesta alam. Seluruh jiwa dan ragaku tunduk akan kebesaran-NYA. Semoga aku selalu di karunia rezeki kesehatan maupun rezeki keimanan, Amin........

Mengelola Politik Islam di Kawasan Nusantara


By: Khoirul Taqwim

Politik Islam telah merasuk dalam ranah berbagai sendi kehidupan masyarakat Nusantara. Sehingga terkadang membedakan antara ajaran Islam dengan politik Islam terasa abu-abu. Kenapa bisa demikian? Karena politik Islam hadir di tengah-tengah realitas kehidupan masyarakat Nusantara melalui berbagai celah, tidak hanya melalui kebiasaan masyarakat, tetapi juga melalui beragam tafsir mengenai ajaran agama Islam. Nah! dari sinilah politik Islam begitu kuat masuk dalam wilayah kawasan Nusantara, tentunya mengingat cara politik Islam yang begitu halus menyusup dalam sendi-sendi nafas di kawasan Nusantara.

Masyarakat Nusantara tidak sedikit yang menganut ajaran agama Islam. Ketika kuantitas masyarakat Islam yang sungguh luar bisa besarnya. Maka apabila politik Islam di kelola dengan baiik, tentunya tidak kalah dengan politik sekuler, politik liberal, dan politik-politik lainnya. Mengingat sebagian besar masyarakat Nusantara beragama Islam. Lalu muncul pertanyaan seperti apa cara mengelola politik Islam di tengah-tengah realitas kehidupan masyarakat Nusantara? Tentunya dengan cara memberikan pemahaman dalam Ilmu-ilmu Islam, supaya masyarakat mengerti tentang ajaran Islam terlebih dahulu. Ketika masyarakat sudah mengerti ajaran Islam dengan baik. Maka politik Islam dapat di mainkan dengan perlahan-lahan dalam melakukan berbagai gerakan yang halus tak terlihat, tetapi nampak suatu pergerakan masyarakat Nusantara mulai berbondong-bondong menyetujui sebuah gagasan di dalam ajaran agama Islam, padahal itu ajaran yang bersifat politis, tetapi seolah-olah menjadi fakta dalam ajaran Islam.

Politik Islam tidak bisa di buat remeh. Karena apabila politik Islam sudah masuk dalam wilayah keseharian masyarakat Nusantara. Maka dapat di tebak politik Islam akan semakin kuat dan nampak kokoh dalam pondasi yang penuh dengan politik-politik ke-agamaan.

Membangun politik Islam membutuhkan waktu, pikiran maupun tenaga. Nah! ketiga inilah modal awal dalam membangun sebuah pondasi politik Islam, supaya dapat di terima di tengah-tengah realitas kehidupan masyarakat, apalagi kalau masyarakat sudah mempunyai pandangan politik yang menolak tentang agama Islam yang masuk dalam ranah politik. Berangkat dari sinilah membutuhkan waktu, pikiran dan tenaga yang tidak sedikit, tetapi membutuhkan dorongan kesabaran yang luar biasa dalam mengelola politik Islam di tengah-tengah realitas kehidupan masyarakat.

Mengelola politik Islam di kawasan Nusantara membutuhkan tiga modal yang penuh dengan kesabaran dan kehati-hatian. Karena terkadang politik Islam belum bisa di terima sebagian masyarakat. Nah! dari sinilah dibutuhkan paradigma pemahaman tentang politik Islam yang penuh dengan kejelian dan ketepatan ketika menerapkan di dalam realitas kehidupan masyarakat Nusantara. Lalu tiga modal mengelola politik Islam itu dengan jalan apa? Tentunya dengan jalan di bawah ini.

1.       Mengelola politik Islam di kawasan Nusantara membutuhkan waktu . Nah! dengan waktu inilah politik Islam Nusantara dapat di kelola dengan baik dan tepat sasaran. Karena politik Islam membutuhkan waktu dalam membangun masyarakat Nusantara, tentunya untuk masuk dalam ranah politik praktis maupun politik teoritis dalam menerjemahkan tentang ajaran politik Islam Nusantara.

2.       Mengelola politik Islam Nusantara membutuhkan pikiran. Nah! pikiran merupakan suatu bahan yang sangat penting dalam menerima gagasan maupun membentuk gagasan dalam mengelola politik Islam di tengah-tengah realitas kehidupan masyarakat Nusantara.

3.       Mengelola politik Islam Nusantara membutuhkan tenaga. Karena tenaga sangat urgen dalam mengelola politik Islam Nusantara dan menjadi sumber energi yang dapat mengelola akan keberhasilan dalam membangun politik Islam Nusantara. Maka dari itulah tenaga merupakan energi yang sangat di butuhkan dalam menentukan sikap dan cara mengelola politik Islam Nusantara secara benar dengan tujuan sebuah bangunan politik Islam Nusantara yang kuat dan bermartabat.

Dengan tiga hal yakni: waktu, pikiran dan tenaga inilah yang menjadi pondasi dasar dalam membangun politik Islam Nusantara secara baik dan tepat sasaran, begitu juga atas kegagalan maupun keberhasilan membangun politik Islam Nusantara tak lepas dari tiga hal tersebut. Maka semua membutuhkan kerja keras dalam mengupayakan sebuah wujud politik Islam Nusantara yang sesuai dengan angan-angan dan mimpi para pemikir politik Islam Nusantara  itu sendiri.

Segala kebenaran tak lepas dari kehendak Allah SWT. Maka untuk itulah aku berserah diri tanpa batas untuk mengabdi pada sang maha pencipta langit maupun sang maha pencipta bumi. Semoga Allah SWT memberikan cahaya rahmat kepadaku dimana saja saya berada, Amin..........

Membedah Politik Toleransi Dalam Pandangan Islam


By: Khoirul Taqwim

Ketika mendengar istilah kata toleransi, tentunya merupakan sebuah kata yang penuh keindahan dan menyejukkan hati, tetapi kalau toleransi sudah menjadi bumbu-bumbu politis, sudah tentu itu menjadi berbeda makna. Karena toleransi sudah menjadi topeng dalam permainan politis, untuk tujuan menghindari dari kesalahan yang diperbuat maupun  kesalahan dalam bentuk lain.

Cerita toleransi tidak pernah ada habisnya menyajikan sebuah kedamaian di tengah-tengah keberagaman, namun kalau istilah toleransi sudah menjadi kata politis, tentunya dibalik kata toleransi penuh dengan ambisi kepentingan. Sehingga kata toleransi yang sesungguhnya penuh dengan ikatan tepa selira, berganti menjadi kata permainan yang menguntungkan sepihak golongan gara-gara toleransi sudah dimainkan dalam ranah permainan politis.

Lalu seperti apa bentuk permainan politik istilah toleransi? Seperti seseorang yang menebar kebencian, baik masalah sara maupun masalah lain, tetapi di saat akan di adili oleh lembaga pengadilan atau di adili oleh masyarakat setempat, ternyata dia menggaungkan kata toleransi dengan berupaya memberikan penjelasan tentang kebebasan berpendapat dan terus memberikan pemikiran dengan kata toleransi berpendapat. Nah! disinilah istilah kata toleransi sudah menjadi bahan politis demi kepentingan segelintir orang semata, tetapi menegasikan kepentingan yang jauh lebih besar di tengah-tengah realitas kehidupan masyarakat.

Islam jelas menegaskan umat manusia untuk saling menghargai dengan cara tepa selira, Islam juga menganjurkan cara menghargai sesama manusia atas nama keadilan, tetapi toleransi yang bersifat politis dan jauh dari istilah keadilan, tentunya Islam sangat melarang hal tersebut. Dalam artian pandangan Islam terhadap politik toleransi yang jauh dari rasa keadilan dan tepa selira merupakan suatu hal yang di tentang dalam ajaran Islam.

Toleransi pada masa pasca reformasi tidak jarang dijadikan alat segelintir para politisi, untuk berupaya mewujudkan keberhasilan dalam melakukan beragam manuver politis dengan istilah toleransi, tetapi toleransi yang dibangun jauh dari sikap dan sifat yang penuh keadilan. Sehingga toleransi yang di bangun tidak mengandung makna tepa selira dan jauh dari kata saling menghargai antar satu sama lain. Namun yang ada hanya sebatas kepentingan politis semata.

Pandangan Islam sudah jelas toleransi yang penuh dengan keadilan dan penuh tepa selira merupakan hal yang sangat di anjurkan, tetapi kalau toleransi sudah menjadi bahan politis untuk kepentingan sesaat dan kepentingan golongan semata, dan tentunya jauh dari nilai-nilai keadilan. Nah! berangkat dari sinilah Islam jelas menolak toleransi yang demikian penuh dengan topeng kebohongan.

Membangun toleransi di tengah-tengah realitas kehidupan masyarakat, berarti sama dengan membangun pondasi keadilan yang penuh dengan kedamaian, tetapi membangun toleransi yang penuh dengan kepentingan politis, berarti sama dengan politik toleransi yang jauh dari nilai-nilai keadilan. Sehingga toleransi hanya di buat pemanis kata semata dengan tujuan membenarkan gagasan-gagasan pemikiran yang sepihak dan jauh dari rasa keadilan, tentunya ajaran Islam menolak istilah toleransi yang demikian itu.

Demi malam dan siang, Demi bulan dan bintang, Segala hidup dan matiku, kupasrahkan pada Ilahi sang maha pencipta langit dan bumi. Seluruh tarikan nafasku, kupasrahkan pada sang maha pencipta ruh dan jasadku, Amin...........

Tiga Wajah Islam Nusantara


By: Khoirul Taqwim

Islam Nusantara dalam kehidupan masyarakat Asia Tenggara sudah mengakar dan mendarah daging dalam budaya masyarakat. Sehingga masyarakat Asia Tenggara dapat hidup penuh dengan kedamaian dan ketenteraman saat menjalankan ibadah agama, tetapi di saat Islam Khilafah dan Islam liberal hadir di tengah-tengah realitas kehidupan masyarakat Asia Tenggara, ternyata membuat kegaduhan, Mengingat Islam Khilafah dan Islam liberal tidak sejalan dengan nafas kehidupan masyarakat Asia Tenggara.

Keberadaaan Islam Nusantara mempunyai tiga wajah yang penuh kedamaian dalam tatanan kehidupan masyarakat Asia Tenggara. Sehingga keberadaan Islam Nusantara begitu membahagiakan bagi perjalanan ke-agamaan masyarakat Asia Tenggara dalam menjalankan ajaran Islam, tentunya disebabkan Islam Nusantara sangat menghargai kearifan lokal dalam membangun nilai-nilai kemanusiaan. Inilah kelebihan Islam Nusantara dalam menjalankan sebuah roda ke-agamaan yang sangat inklusif di saat membangun cara pandang masyarakat Asia Tenggara dalam melaksanakan dan memberikan paradigma pemikiran tentang  ajaran agama Islam.

Islam Nusantara mempunyai tiga wajah dalam menjalankan aktivitas ke-agamaan. Sehingga keberadaan Islam Nusantara sangat urgen di tengah-tengah realitas masyarakat Asia Tenggara, di antaranya.

1. Islam Nusantara mempunyai wajah yang sangat menghargai keberadaan semesta alam. Sehingga tak heran masyarakat Asia Tenggara sangat menjaga keutuhan alam, dengan cara menjaga lingkungan sekitarnya, menjaga hutan-hutan dari penebangan liar, menjaga kebersihan sungai, menjaga gunung-gunung supaya hutannya tidak gundul, dan lain sebagainya. Nah! tentunya Islam Nusantara menekankan tentang menjaga keberadaan alam semesta dengan baik dan indah.

2. Islam Nusantara sangat menghormati dan menghargai semua makhluk hidup. Karena  semua makhluk hidup merupakan ciptaan Allah SWT. Sehingga sudah seharusnya kita menghormati dan menghargai semua makhluk hidup, khususnya menghormati dan menghargai sesama umat manusia dalam naungan hamba yang pasrah pada Ilahi.

 3. Islam Nusantara sangat menekankan bentuk ketaatan pada Ilahi. Sehingga masyarakat yang menjalankan Islam Nusantara akan terlihat sifat yang penuh tepa selira, penuh kesopanan, etika yang baik antar sesama, dan mempunyai keramah tamahan yang sungguh menakjubkan. Mengingat Islam Nusantara sangat menekankan ketaatan pada Ilahi sebagai bentuk maupun wujud kepasrahan jiwa dan raga kepada sang maha pencipta segala.

Berangkat dari tiga wajah Islam Nusantara di atas, dapat di ambil sebuah kesimpulan sederhana, bahwa dalam nafas kehidupan masyarakat Islam Nusantara yang ada di Asia Tenggara mempunyai sifat dan sikap menghargai dan menjaga semesta alam, Menghormati dan menghargai semua makhluk hidup,dan masyarakat Islam Nusantara mempunyai sifat yang penuh ketaatan pada Ilahi.

Dengan tulisan singkat di atas semoga saya dapat mengambil hikmah dan mencerna secara positif dalam memahami tiga wajah Islam Nusantara. Hingga pada akhirnya segala hidup dan matiku kupasrahkan pada Ilahi sang maha pencipta langit maupun sang maha pencipta bumi. Semoga kehendak keberkahan Ilahi selalu ada dalam jiwa dan ragaku, Amin........

Islam Nusantara Jawaban Dari Islam Khilafah Maupun Islam Liberal


By: Khoirul Taqwim

Ketika membicarakan Islam Nusantara seolah-olah pikiran dan jiwa kita di ajak untuk terbang menuju Asia Tenggara. Mengingat Islam Nusantara tumbuh kembang  bersama nafas kehidupan masyarakat Asia Tenggara dalam melakukan berbagai aktivitas keagamaan Islam yang penuh kedamaian dan persaudaraan, tetapi akhir-akhir ini setelah memasuki  zaman pasca reformasi  keberadaan Islam Nusantara di gempur habis-habisan melalui Jaringan Islam Khilafah maupun Jaringan Islam liberal.

Berangkat dari permasalahan yang terjadi setelah zaman memasuki era pasca reformasi, keberadaan Islam Nusantara mendapatkan tantangan dari paradigma pemikiran Islam budaya global yang terhimpun dengan berbagai jaringan Internasional, untuk menggempur keberadaan Islam Nusantara di wilayah Asia Tenggara. Lalu muncul pertanyaan sanggupkah Islam Nusantara menghadapi gempuran Jaringan Islam Khilafah maupun jaringan Islam Liberal? Nah! dari sinilah Islam Nusantara di uji dalam mempertahankan dan menaklukkan paradigma pemikiran jaringan Islam Khilafah maupun jaringan Islam liberal.

Paradigma pemikiran Islam Nusantara dalam menanggulangi berbagai gempuran  pemahaman Islam Khilafah maupun Islam liberal pasca reformasi, ternyata Islam Nusantara masih kokoh dan semakin menguat di tengah-tengah realitas kehidupan masyarakat desa maupun masyarakat kota. Sehingga Islam Nusantara hadir sebagai jawaban kegelisahan masyarakat Asia Tenggara dalam menghadapi berbagai gempuran pemahaman Islam Khilafah maupun Islam liberal yang cenderung ekstrimis dalam pemahamannya.

Islam Khilafah maupun Islam liberal tidak henti-hentinya dengan mengatasnamakan Islam, terus berupaya mencari celah masuk ke masyarakat Asia Tenggara, tentunya dengan tujuan menginginkan sebuah perubahan di dalam kehidupan masyarakat Asia Tenggara, untuk menjalankan gagasan Islam Khilafah yang mempunyai sifat segala tindakan seolah-olah hasil dari Al-Qur’an maupun Hadits, padahal semua itu tak lepas dari olah pikir yang di bangun Islam Khilafah dalam membentuk masyarakat yang sesuai dengan paradigma pemikiran Islam khilafah itu sendiri, begitu juga Islam liberal dengan segala cara memasukkan gagasan kebebasan dalam menjalankan agama, tentunya sesuai kebebasan yang menjadi gagasan dalam pemahaman Islam liberal di tengah-tengah realitas kehidupan masyarakat.

Keberadaan Islam Nusantara di masa sebelum reformasi telah mampu menanggulangi segala bentuk paradigma pemahaman ke-Islaman yang bersifat ekstrimis, tetapi di masa pasca reformasi gempuran pemahaman ke-Islaman ekstrimis semakin menguat hingga sampai mengakar. Maka berangkat dari sinilah Islam Nusantara terus menerus berupaya menjadi jawaban keberadaan Islam Khilafah maupun Islam liberal di tengah-tengah kegelisahan masyarakat Nusantara yang berada di kawasan Asia Tenggara.

Masa pasca reformasi Islam Nusantara tetap mampu menunjukkan eksistensi diri sebagai pemahaman ke-Islaman yang menjunjung tinggi kearifan lokal dan menjunjung tinggi  pemahaman tentang keberagaman, tanpa mengesampingkan teks maupun konteks dalam pemahaman tentang ajaran agama Islam. Sehingga di masa pasca reformasi yang semakin menguat berbagai gempuran terhadap Islam Nusantara, terutama gempuran dari Islam Khilafah maupun Islam liberal, ternyata Islam Nusantara tetap mampu menjawab segala kegelisahan masyarakat yang di sebabkan paradigma dari hasil pemahaman Islam Khilafah maupun Islam liberal. Semua tak lepas eksistensi  diri masyarakat Asia Tenggara yang masih kokoh bangunan pondasi dalam pemahaman khazanah Islam Nusantara.

Segala kebenaran hanya milik Allah SWT, kita sebagai manusia hanya sebatas ikhtiar semata. Karena segala kehendak kita pasrahkan kepada sang maha pencipta segala, baik sang maha pencipta langit maupun sang maha pencipta bumi. Hingga pada titik akhirnya, semoga Allah SWT selalu memberikan rahmat kepada kita dan selalu menjaga kita dalam keadaan sehat jiwa maupun keadaan sehat raga, Amin............

Perang Idiologi Islam di Kawasan Asia Tenggara


By: Khoirul Taqwim

Asia Tenggara menjadi target pemahaman idiologi Islam Khilafah maupun Islam liberal, tentunya dengan tujuan pemahaman Islam Khilafah maupun Islam liberal dapat terwujud di tengah-tengah realitas kehidupan masyarakat Nusantara. Sehingga dengan demikian terjadi benturan idiologi Islam Khilafah dengan Islam liberal, dan tentunya kedua idiologi itu dengan segala cara terlebih dahulu menjinakkan gagasan-gagasan dari idiologi Islam Nusantara.

Asia Tenggara merupakan kekuatan yang masih menjaga kearifan lokal dengan berbagai keberagaman yang dimilikinya. Sehingga gagasan Islam Khilafah maupun Islam liberal berusaha terus menerus melakukan berbagai aksi, mulai dari aksi tulis menulis sampai aksi pergerakan di lapangan, tentunya untuk mewujudkan sebuah gagasan idiologi yang ingin di capai di kawasan Asia Tenggara.

Paradigma Islam Khilafah maupun Islam liberal terus menerus berusaha menjinakkan pemahaman Islam Nusantara. Karena dengan menjinakkan Islam Nusantara, berarti sama dengan Islam Khilafah maupun Islam liberal telah berhasil menaklukkan masyarakat  di kawasan Asia Tenggara melalui idiologinya. Sehingga dengan segala kekuatan Islam Khilafah maupun Islam liberal melakukan sebuah pertarungan idiologi, untuk menggempur gagasan Islam Nusantara, supaya pemahaman Islam Nusantara dapat runtuh dalam pemahaman di tengah-tengah realitas kehidupan masyarakat Asia Tenggara.

Lalu muncul pertanyaan, seberapa besarkah perang idiologi Islam di kawasan Asia Tenggara? Sebesar kekuatan daya tulis dalam mempengaruhi budaya masyarakat Asia Tenggara, dan sebesar daya aksi dalam melakukan pergerakan paradigma Islam Khilafah maupun Islam liberal dalam menggempur paradigma pemikiran Islam Nusantara yang sudah mengakar di ranah budaya masyarakat di Asia Tenggara.

Perang idiologi Islam di kawasan Asia Tenggara tak lepas dari idiologi yang mulai memperlebarkan sayap dari wilayah timur tengah maupun wilayah bangsa barat dalam menerjemahkan tentang ajaran agama Islam. Sehingga mereka melakukan ekspansi pemahaman Islam Khilafah maupun Islam liberal dengan tujuan wilayah Asia Tenggara sebagai target-target gagasan yang di usungnya.

Muncul pertanyaan kembali, seberapa kuatkah Islam Nusantara menangkal idiologi Islam Khilafah maupun Islam liberal di kawasan Asia Tenggara? Sekuat pemahaman masyarakat Asia Tenggara dalam menjalankan ajaran Islam yang terhimpun dalam budaya kearifan lokal dan budaya menghargai sebuah keberagaman. Sehingga yang terjadi sebuah hasil yang saling toleransi dan jauh dari pemahaman ekstrimis dalam pemahaman tentang ajaran agama Islam. Karena akhir-akhir  masa pasca reformasi masyarakat Asia Tenggara telah mengalami perang idiologi Islam yang masuk dari wilayah timur tengah maupun wilayah bangsa barat, tentunya dengan berbagai Idiologi ke-Islaman yang di bawa dalam ranah politis dengan tujuan menaklukkan kawasan Asia Tenggara.

Dengan adanya perang idiologi di kawasan Asia Tenggara telah menunjukkan seberapa kokoh masyarakat Asia Tenggara menghadang gagasan ekstrimis, baik hasil dari gagasan Islam Khilafah maupun Islam Asia Tenggara. Maka untuk itulah masyarakat Asia Tenggara sudah waktunya mengatakan menolak segala aktivitas ekstrimis gagasan idiologi yang mengatasnamakan ajaran agama Islam.

Islam Nusantara sebagai pemahaman Islam yang lebih dinamis dan pemahaman Islam yang jauh dari pemahaman ekstrimis, tentunya Islam Nusantara masih mampu melakukan sebuah penjagaan dan memfilter  berbagai gagasan-gagasan idiologi ekstrimis, baik yang di hasilkan dari pemahaman Islam Khilafah maupun pemahaman Islam liberal. Berangkat dari sinilah dapat dikatakan Islam Nusantara sebagai penjaga masyarakat kawasan Asia tenggara dan sebagai bentuk perlawanan terhadap ekstrimis idiologi Islam, baik dari timur tengah maupun  dari bangsa barat.

Semoga Allah SWT memberikan kekuatan kepada masyarakat Asia Tenggara, untuk terus menerus melakukan aksi tulis menulis maupun aksi gerakan di tengah-tengah realitas kehidupan masyarakat yang berupaya menolak gagasan-gagasan ekstrimis yang mengatasnamakan ajaran Islam. Hingga pada titik akhirnya, segala kebenaran hanya milik Allah SWT, sedangkan saya sebagai manusia biasa hanya sebatas ikhtiar dalam menerjemahkan tentang kebenaran ajaran agama Islam. Semoga Allah SWT mengampuni segala salah dan khilaf saya, Amin..............

Islam Khilafah Bukan Dari Al-Qur’an

By: Khoirul Taqwim

Islam Khilafah yang di dengung-dengungkan sebagian pemikir umat Islam di anggap sebuah ajaran Islam yang bersumber dari Al-Qur’an, tentunya itu merupakan sebuah kebohongan besar. Nah! dari sinilah perlu ulasan yang lebih detail di balik kebohongan para pemikir Islam Khilafah dalam mendengungkan tentang negara dan bangsa yang berdasarkan Islam Khilafah.

Sebelum membaca lebih lanjut tentang  Islam Khilafah bukan dari Al-Qur’an, terlebih dahulu menyusun pertanyaan sederhana, kenapa Islam Khilafah yang di anggap pemerintahan beradasarkan syari’at Islam adalah kebohongan besar? Karena sudah jelas tidak ada satupun ayat Al-Qur’an yang jelas-jelas menerangkan tentang Islam Khilafah dalam Al-Qur’an. Namun ada sebagian pemikir  umat Islam yang menganggap Islam Khilafah sebagai ajaran Islam, tentunya itu sebatas tafsir politis yang jauh dari kebenaran. Mengingat agama Islam yang begitu besar dengan sumber daya manusia yang sangat luar biasa, para pemikir Islam Khilafah mencoba memberikan pemahaman dengan gambaran tafsir tentang Islam Khilafah yang seolah-olah sejalan dengan Al-Qur’an, padahal itu hanya olah pikir dari para pemikir Islam Khilafah itu semata.

Paradigma pemikiran Islam Khilafah telah di adopsi oleh para pemikir yang cenderung bersifat politis, untuk mencari dukungan dalam membangun pemerintahan Khilafah, walau dalam negara yang  akan di bangun dengan istilah Islam Khilafah sudah mempunyai aturan negara yang syah, tetapi para pemikir Islam Khilafah terus menerus mencoba memberikan pemahaman bahwa Islam Khilafah bersumber dari Al-Qur’an, padahal itu hasil dari olah pikir para pemikir khilafah yang cenderung akan haus politis dalam wadah kekuasaan.

Islam dan politik terus dijadikan alat oleh para pendukung Islam Khilafah dengan tujuan membuat negara yang berdasarkan pemahaman Islam Khilafah, tentunya para pemikir Islam Khilafah tidak perduli, walaupun dalam negara yang di jadikan ajang penyebaran Islam Khilafah sudah ada undang-undang yang mengatur tentang kenegaraan. Sehingga benturan tidak terelakkan ketika Islam Khilafah yang di bangun oleh para politisi dengan tujuan kekuasaan menyebar di negara yang tidak sejalan dengan pemahaman Islam Khilafah.

Para penyebar gagasan Islam Khilafah dengan jalan mencari pendukung yang sepaham dengan gagasan pembentukan negara berdasarkan pemerintahan Islam Khilafah di saat memasuki negara yang tidak mengadopsi Islam Khilafah, tentunya akan  terjadi sebuah pemahaman tentang negara di dalam negara. Nah! disinilah benturan terjadi dalam kehidupan sebuah negara dengan istilah “perang idiologi negara”.

Kebohongan Islam Khilafah terus menerus di dengung-dengungkan, mulai dari pemikiran yang menganggap pemerintahan selain Islam Khilafah di anggap pemerintahan kafir, dan tentunya harus diganti dengan pemerintahan yang mengadopsi Islam Khilafah, padahal semua itu tidak lepas bahwa Islam Khilafah hasil dari olah pikir segelintir umat yang mengatasnamakan kepentingan agama Islam yang bersumber dari Al-Qur’an, padahal sudah jelas Al-Qur’an tidak ada satu ayatpun yang menerangkan tentang Islam Khilafah secara konkrit, tetapi mereka tidak henti-hentinya para pendukung Islam Khilafah berusaha memberikan penafsiran tentang Al-Qur’an untuk terus di bawa dalam ranah kepentingan untuk membangun Islam Khilafah.

Ketika Islam Khilafah itu di anggap ada dalam Al-Qur’an, berarti sama dengan mengada-ada dalam ajaran Islam. Karena apabila Islam Khilafah itu ada dalam Al-Qur’an, tentunya malah mengkerdilkan makna Al-Qur’an itu sendiri. Karena Islam Khilafah sudah di anggap sebagai kebenaran mutlak yang harus di wujudkan di dalam kehidupan semesta alam. Maka untuk itulah para pemikir Islam Khilafah sudah seharusnya sadar diri tentang pemikiran Islam Khilafah bukan dari Al-Qur’an, tetapi sebatas hasil olah pikir yang di gaung-gaungkan oleh para pendukung Islam Khilafah dengan segudang agenda politis para pemikirnya.

Dengan membuka pemikiran mengenai Islam Khilafah tidak ada dalam Al-Qur’an, berarti sama dengan mencerdaskan umat Islam, bagaimana tidak? Karena umat Islam mampu memilah tentang Al-Qur’an yang murni dengan Al-Qur’an yang sudah menjadi hasil olah pikir dalam pemahamannya. Nah! berangkat dari sinilah keberadaan Islam Khilafah telah di formulasikan para pemikir Islam Khilafah dengan tujuan kekuasaan dengan memainkan isu agama Islam, padahal Islam Khilafah sudah jelas sebagai hasil olah pikir yang mengada-ada dalam memberikan pemahaman tafsir tentang Al-Qur’an, dan pada titik akhirnya, bahwa Islam Khilafah merupakan hasil rekayasa olah pikir para pemikir Islam Khilafah itu sendiri.

Demi langit dan bumi, demi siang dan malam. Segala kebenaran hanya milik Allah SWT dan jangan sekali-kali mengatasnamakan Al-Qur’an untuk kepentinganmu, padahal Al-Qur’an sudah jelas tidak menerangkan demikian. Semoga Allah SWT memberikan ampunan kepada kita semua, Amin............